Senin, 14 April 2008

BATIK

Batik saat ini dihadang kendala berat. Kendala itu adalah kesulitan memasarkan batik ke luar daerah asalnya.

Hingga kini para produsen batik sebagian besar masih mengandalkan penjualan di daerah sendiri. Padahal, usaha batik tidak hanya dikenal di dalam negeri saja, tetapi juga hingga ke luar negeri seperti Jepang, Brasil, dan beberapa negara Eropa.

Selain itu, usaha batik masih mengandalkan pasokan kain untuk pengerjaannya. Sampai saat ini belum ditemui produsen kain yang bisa memproduksi kain katun dan sutra dalam jumlah yang besar.

Daerah perajin batik sering dipakai sebagai ajang pertukaran pelajar. Mereka berasal dari Jepang, Spanyol, dan Brasil. .

Perajin Batik
Kalangan perajin batik kini kembali terancam gulung tikar menyusul menguatnya nilai tukar dolar terhadap mata uang rupiah.

.

Padahal, menurut dia, dengan adanya kenaikkan bahan baku maka secara tidak langsung margin keuntungan juga akan berkurang bahkan pedagang bisa merugi. Menurut dia, sebenarnya pedagang batik di Pekalongan sudah pernah merasakan kebangkrutan saat terjadinya krisis moneter, peristiwa bom Bali dan kebakaran pasar Tanah Abang Jakarta beberapa tahun lalu.

Seorang pengusaha batik,Arif Wicaksono, menambahkan, saat ini pengusaha mulai kesulitan untuk mendapatkan bahan baku batik dan lebih memilih menurunkan produksinya hingga 20 persen atau semampunya.

Ia berharap, pemerintah agar kondisi ekonomi seperti saat ini kembali normal sehingga tidak menimbulkan keresahan terhadap para pengusaha atau pelaku ekonomi.

“Kami saat ini hanya bergantung pada pemerintah agar bisa menstabilkan lagi kondisi ekonomi bangsa Indonesai,” ujarnya.

Tidak ada komentar: